Ditulis oleh: Ira Chinta Ramadhani, Khairunnisa Indah Aryani
Ditinjau oleh: Aminarso, Ak., Safitri Aprilia, S.E.
Sebagai pemilik bisnis, Anda tentu merasakan bagaimana pajak dapat menggerus laba dan menekan cash flow perusahaan. Di era Coretax 2026, ketika data perpajakan semakin terintegrasi, strategi “kucing-kucingan” dengan fiskus sudah tidak lagi relevan.
Sebaliknya, perusahaan perlu menerapkan tax planning yang tepat sejak awal untuk mengoptimalkan PPh Badan secara legal sekaligus menjaga keamanan saat pemeriksaan—bahkan banyak bisnis mulai mendiskusikan strategi ini bersama konsultan agar tidak terlambat melakukan penyesuaian. Mari kita bahas langkah-langkahnya.
1. Memahami Batas Tipis: Tax Planning vs Tax Evasion
Sebelum menyusun strategi, perusahaan harus memahami batas yang jelas antara efisiensi dan pelanggaran.
- Tax Planning (Efisiensi) memungkinkan perusahaan mengatur transaksi agar beban pajak tetap minimal tanpa melanggar ketentuan. Misalnya, perusahaan dapat memilih metode penyusutan yang paling menguntungkan secara fiskal.
- Tax Evasion (Penyimpangan) justru melanggar hukum, seperti menyembunyikan penghasilan atau memalsukan dokumen. Di tahun 2026, risiko praktik ini semakin tinggi karena sistem deteksi DJP sudah semakin canggih dan berbasis data otomatis.
Dengan memahami perbedaan ini, perusahaan dapat menyusun strategi pajak yang aman dan berkelanjutan.
2. Mengoptimalkan Biaya Fiskal (Deductible Expenses)
Perusahaan dapat menekan PPh Badan dengan mengelola setiap biaya agar sesuai dengan ketentuan fiskal.
- Kelola Natura Secara Terukur
Sejak berlakunya UU HPP, perusahaan dapat membebankan biaya imbalan berupa fasilitas dan natura sebagai pengurang penghasilan bruto. Namun, perusahaan harus menetapkan kebijakan yang jelas dan mendokumentasikan pemberian fasilitas seperti kendaraan, perangkat telekomunikasi, laptop, makan-minum, atau biaya kesehatan. - Lengkapi Biaya Promosi dan entertaint dengan Dokumen Pendukung
Perusahaan tidak cukup hanya mencatat biaya promosi dan atau entertaint dalam pembukuan. Perusahaan juga harus menyusun Daftar Nominatif sesuai ketentuan agar fiskus tidak mengoreksi biaya tersebut saat pemeriksaan.
Dengan pengelolaan yang tepat, perusahaan dapat menghindari koreksi fiskal yang sering terjadi.
Namun, dalam praktiknya, perusahaan sering salah mengidentifikasi biaya yang dapat diakui (deductible expense) sehingga fiskus banyak melakukan koreksi saat pemeriksaan. Oleh karena itu, tidak sedikit perusahaan yang melakukan review bersama pihak independen untuk memastikan seluruh biaya sudah sesuai ketentuan.

Tabel perbandingan biaya deductible dan non-deductible dalam PPh Badan dengan contoh biaya yang boleh dan tidak boleh dikurangkan
3. Mengatur Timing Biaya Secara Strategis
Selain jenis biaya, perusahaan juga perlu mengatur waktu pengakuan biaya untuk mengoptimalkan beban pajak.
- Lakukan Percepatan Biaya
Ketika memproyeksikan laba tahun berjalan tinggi, perusahaan dapat mempercepat pengeluaran seperti maintenance atau riset di akhir tahun untuk meningkatkan pengurang pajak. - Pilih Metode Penyusutan yang Tepat
Perusahaan dapat memilih metode garis lurus atau saldo menurun sesuai kebutuhan. Jika perusahaan ingin menekan pajak di awal, metode saldo menurun dapat menjadi pilihan yang lebih optimal.
Dengan strategi timing yang tepat, perusahaan dapat mengelola beban pajak secara lebih efisien.
4. Menjaga Cash Flow Pajak Tetap Sehat
Selain efisiensi, perusahaan juga harus menjaga arus kas agar tidak terganggu oleh kewajiban pajak.
- Optimalkan Kredit Pajak
Perusahaan harus mengumpulkan dan memanfaatkan seluruh bukti potong PPh, seperti PPh 22 dan PPh 23. Di era Coretax 2026, data ini umumnya sudah tersedia secara pre-populated, sehingga perusahaan dapat langsung menggunakannya untuk mengurangi PPh Badan. - Kelola Angsuran PPh 25 Secara Proaktif
Jika omzet menurun, perusahaan sebaiknya segera mengajukan pengurangan angsuran PPh 25 agar likuiditas tetap terjaga.
Pada tahap ini, perencanaan yang matang menjadi kunci. Banyak perusahaan mulai melakukan simulasi PPh Badan sejak awal tahun untuk menjaga cash flow tetap stabil dan menghindari kekurangan bayar yang signifikan di akhir periode.
5. Memperkuat Dokumentasi untuk Menghadapi Pemeriksaan
Di era digital, pemeriksaan pajak semakin berbasis data. Oleh karena itu, perusahaan harus memperkuat dokumentasi sejak awal.
- Bangun Digital Trail yang Jelas
Perusahaan harus memastikan setiap transaksi memiliki business purpose yang relevan dengan prinsip 3M (mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan). - Susun SOP yang Mendukung
Selain bukti transaksi, perusahaan juga perlu menyiapkan kebijakan internal. Misalnya, perusahaan harus melengkapi biaya perjalanan dinas dengan surat tugas dan laporan kegiatan sebagai bukti yang kuat.
Dengan dokumentasi yang lengkap, perusahaan dapat menghadapi pemeriksaan dengan lebih percaya diri.
Pada akhirnya, perusahaan tidak cukup hanya memahami efisiensi PPh Badan, tetapi harus merencanakannya dengan strategi yang tepat sejak awal.
Di era Coretax 2026, perusahaan yang proaktif dalam melakukan tax planning akan lebih unggul—baik dari sisi cash flow maupun kesiapan saat pemeriksaan. Jika Anda ingin mengetahui apakah struktur pajak perusahaan Anda sudah optimal atau masih memiliki potensi efisiensi, ini saat yang tepat untuk melakukan evaluasi.
Tim Esindo mengidentifikasi peluang tersebut secara komprehensif—mulai diskusi melalui WhatsApp untuk melihat potensi efisiensi yang bisa Anda optimalkan.






